JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Tiga Tahun di Australia Tidak Bisa Berbahasa Inggris

 

australia

 

Kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan kita di masa yang akan datang, saat ini kehidupan kita mungkin baik-baik saja, namun bisa jadi nanti kehidupan ini tiba-tiba berubah 180 derajat bukan? atau malah tidak banyak mengalami perubahan? kita belum mengetahuinya sekarang. Untuk itu, semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi anda dan juga saya sendiri untuk senantiasa membekali diri dengan bekal pengetahuan, dimana diharapkan nantinya dapat bermanfaat, khususnya dalam hal ini kemampuan berbahasa asing.

 

Jika anda membaca judul di atas, mungkin anda tidak akan percaya, saya pun awalnya demikian. Kala itu seorang Ibu datang ke lembaga kami – Mantika English untuk berkonsultasi tentang bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, ia mengeluhkan dirinya yang belum juga bisa berbahasa Inggris meskipun ia pernah tinggal di Australia selama tiga tahun. Saya pun berkesempatan untuk memintanya berbicara menggunakan bahasa Inggris yang kemudian berkesimpulan bahwa memang kemampuan ibu ini jauh dari ekspetasi awal saya, khususnya untuk seseorang yang pernah tinggal di negara yang penduduknya mayoritas berbahasa Inggris.

 

Si Ibu ini mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide atau kalimat yang ingin diucapkannya. Akan tetapi, saya masih menemukan adanya aksen native speaker yang sangat kental dari pengucapan bunyi kata atau kalimat yang ia ucapkan. Setidaknya hal tersebut telah membuktikan bahwa si Ibu memang familiar dengan pengucapan atau bunyi kata yang selalu di utarakan oleh native speaker. Di dalam pengajaran, hal ini dinamakan dengan proses ‘receptive skills’, yakni proses pembelajaran yang diperoleh pembelajar melalui mendengar, meniru serta mempraktekan kata atau kalimat.

 

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan bahasa Inggris si Ibu tersebut tidak berkembang? penasaran?  Nah, jika saya menjawab apa permasalahan si Ibu tersebut langsung pada paragraf ini, maka saya yakin tulisan ini akan selesai dan anda tidak akan tertarik lagi untuk membacanya hingga selesai bukan?

 

Sebenarnya yang terpenting bukanlah mengapa, namun strategi apa yang akan saya sharing pada akhir tulisan ini, yaitu tentang strategi terbaik membagi waktu di sela-sela kesibukan anda. Dalam menangani permasalahan si Ibu ini, saya juga menggunakan teknik ‘ego state therapy’ sehingga mampu mengidentifikasi permasalahan si Ibu dengan baik, dimana kemudian kami bersama-sama menemukan solusi dan memprogramnya ke dalam pikiran bawah sadar si Ibu tadi

.

Baiklah, mari kita mulai kisah lengkapnya.

Kesadaran si Ibu untuk bisa berbahasa Inggris berawal ketika dirinya ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh suami yang meninggal karena sakit. Dirinya sadar bahwa saat itu ia harus menghidupi keluarganya dan memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi anak-anaknya di rumah. Hal pertama yang ia pikirkan adalah karirnya di kantor dan apa saja yang telah ia raih selama ini. Karirnya pada perusahaan pemerintah dan selama ia bekerja di sana tidak pernah naik atau menduduki jabatan strategis, ia selalu berada pada level yang itu-itu saja. Artinya, tidak ada peningkatan yang berarti meskipun secara individu dirinya memiliki kompetensi untuk bisa menduduki suatu jabatan strategis di kantornya. Beberapa pelatihan untuk menunjang karir telah ia ikuti, bahkan sertifikasi yang bertaraf internasional pun telah ia miliki, dirinya pun pernah tinggal di luar negeri.

 

Singkat cerita, dari hasil diskusi panjang yang telah kami lakukan, akhirnya saya menemukan bahwa ada tiga hambatan mental yang menjadi pemicu pada Ibu ini sehingga ia tidak berkembang, baik dari sisi karir maupun bahasa Inggrisnya.

 

Pertama, adanya keyakinan (beliefs) yang kuat. Hal itu telah tertanam pada dirinya sejak kecil dan sangat ia ingat dengan baik. Beliefs tersebut berasal dari nasihat dari ayah, dimana dirinya tidak boleh meminta-minta sesuatu kepada seseorang terutama yang berkaitan dengan urusan jabatan. Mindset tersebut tertanam kuat sehingga membuatnya selalu menjaga jarak dengan pejabat-pejabat baru di kantornya. Ada pemikiran bahwa jika ia dekat dengan mereka, maka sama halnya sedang meminta jabatan atau sedang mempromosikan diri agar diberi jabatan. Dalam benaknya, sebuah jabatan itu selayaknya hadir dengan cara ditawarkan. Hal ini bahkan diperparah dengan pendapatnya yang menyatakan bahwa hampir seluruh rekan-rekannya yang menduduki posisi tertentu di kantornya saat ini diperoleh dengan cara meminta atau menjalin keakraban.

Keadaan ini terus berjalan hingga bertahun-tahun dan orang lain selalu beranggapan bahwa si Ibu ini mungkin memang tidak butuh jabatan. Padahal, sejatinya bahwa dengan menjalin komunikasi dan keakraban dengan atasan, maka setidaknya atasan akan bisa menilai serta melihat kapabilitas yang si Ibu miliki bukan?

 

Kedua, ada kondisi nyaman yang dirasakan oleh si Ibu dari suami yang sangat pandai di dalam memenuhi kebutuhan keluarga, di tambah pula suaminya adalah orang yang sangat perhatian. Bahkan ketika mereka di Australia, ada permintaan dari suami agar si Ibu untuk fokus pada mengurus anak dan dirinya saja, alhasil dirinya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang bersosialisai dengan orang asing.

Ketiga, Suaminya adalah orang yang sangat pandai dalam berbahasa Inggris. Hal itu menyebabkan dirinya merasa nyaman tanpa harus berbicara bahasa Inggris kemanapun dan dimanapun selama ia tinggal di Australia.

Disini anda dapat melihat dampak yang kurang baik dari pengkondisian yang disebabkan oleh kenyamanan, selain itu juga dari mindset yang tidak tepat yang akhirnya berdampak negatif pada perkembangan karir maupun kemampuan belajar seseorang. Tentu hal tersebut bisa diubah seperti halnya si Ibu tadi yang pada akhirnya bisa menata kehidupannya kembali setelah menyadari apa yang terjadi pada dirinya selama ini. Memang pada awalnya tidak mudah untuk menemukan permasalahan yang terjadi, namun dengan bantuan ‘hypnotherapy’ permasalahan yang berhubungan dengan psikologis bisa ditemukan solusinya.

 

Seperti yang saya janjikan di awal tulisan ini bahwa yang utama adalah bukan mengapa, namun bagaimana memiliki strategi agar kita selalu sadar, mau belajar serta menambah kemampuan (skill). Apakah anda ingin memanfaatkannya? saya berharap nantinya anda pun seperti memiliki ‘alarm’ atau pengingat yang akan memberi tahu atas hal-hal penting apa saja yang perlu dikerjakan dan menjadi prioritas anda. Berikut ulasannya.

Dalam keseharian, kita bisa mengelompokkan beberapa aktivitas menjadi sesuatu yang “mendesak sesuai tujuan”, “tidak mendesak namun sesuai tujuan”, “mendesak tanpa tujuan” dan “tidak mendesak dan tanpa tujuan”. Untuk lebih jelasnya, silahkan langsung lihat tabel di bawah ini, untuk memudahkan saya pun telah menambhakan kode (T) di masing-masing kolom, yang artinya ‘target’.

 

Mendesak

Tidak Mendesak

Sesuai Tujuan

 

(T1)

 

  • Membuat laporan kerja
  • Belajar untuk ujian atau tes kenaikan jabatan
  • Meeting dengan atasan atau klien

 

(T2)

 

  • Membaca buku
  • Membuat rencana kerja dan kehidupan
  • Ikut seminar, asosiasi, klub
  • Belajar bahasa Inggris dan berlatih setiap hari
  • Bersosialisai dan networking

Tanpa Tujuan

 

(T3)

 

  • SMS, Chatting, Telpon
  • Menonton Program TV yang disukai

 

(T4)

 

  • Browsing Internet
  • Menonton TV
  • Bermalas-malasan
  • Jalan-jalan

 

Dari table diatas manakah yang harus mendapat prosentase terbesar untuk dikerjakan? Jika anda ingin memiliki skill terbaik dan siap menghadapi tantangan di masa yang akan datang maka jawabannya adalah fokus pada T2. 

 

Prioritas

Prosentasi

T1

20%

T2

60%

T3

15%

T4

5%

 

Ingat baik-baik tabel di atas ke dalam pikiran anda dan jadikan table tersebut ‘alarm’ yang selalu mengingatkan anda, selamat mencoba….:)

Semoga tulisan ini bermanfaat, salam Hypnocative !

Adam Hidayat

Read 183 times Last modified on Thursday, 19 October 2017 13:15

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.